Kamera bergerak perlahan menyusuri lorong panjang pusat data. Lampu-lampu LED biru dan hijau berkedip di balik dinding kaca, memantulkan dengung ribuan pendingin server, suara napas mekanis dari sebuah mesin yang dipaksa memikirkan masa depan lebih cepat dari waktunya.

Di ruang rapat berdinding kaca di lantai empat puluh, cahaya kota malam membias di atas meja marmer. Di layar proyektor, kurva valuasi menanjak curam, nyaris vertikal, menyentuh langit-langit presentasi. Dua puluh lima tahun silam, riak yang sama pernah membanjiri bursa saham ketika akhiran tiga huruf " dot com " ,mengubah ide di atas serbet kertas menjadi miliaran dolar dalam semalam, sebelum lenyap menjadi asap saat fajar tiba.

Kini, huruf-huruf itu berganti menjadi dua aksara baru. Semuanya bergerak dalam koreografi yang akrab: janji kecerdasan tanpa batas, triliunan dolar yang mengalir ke katedral silikon, dan ketakutan purba manusia akan tertinggal oleh gelombang zaman.

Fokus beralih ke jendela kaca. Bayangan kota di bawah tampak terdistorsi, menyerupai bola kaca tipis yang mengapung di udara malam, terus ditiup angin spekulasi hingga dindingnya kian transparan. Semua orang di dalam ruangan tahu hukum fisika yang tak terucapkan: udara yang terlalu padat selalu mencari jalan keluar.

Lampu proyektor mendadak padam. Ruangan tenggelam dalam temaram. Ketika kurva-kurva ilusi itu surut dan gema tepuk tangan reda, yang tersisa di atas meja hanyalah tumpukan lembar neraca dan kabel-kabel tembaga yang masih hangat , menanti kepastian tentang apa yang benar-benar nyata saat gelembung itu akhirnya meletus.